Sintesis dan Karakterisasi Hidrogel Kitosan-Minyak Jintan Hitam (Nigella sativa L.)-Lendir Bekicot (Achatina fulica)
Abstract
Luka yang tidak segera ditangani dapat terinfeksi oleh bakteri, sehingga membuat proses penyembuhan menjadi lebih lama. Spesies bakteri yang paling sering menginfeksi luka adalah Staphylococcus aureus, ditemukan pada 6,3% hingga 56,6% kasus infeksi luka. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi adalah dengan memberikan sediaan topikal yang mengandung senyawa antibakteri seperti kitosan, minyak jintan hitam, dan lendir bekicot. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi sediaan hidrogel berbasis kitosan, minyak jintan hitam dan lendir bekicot. Hidrogel dibuat dalam empat formulasi dengan variasi minyak jintan hitam, yaitu F0 (0%), F1 (5%), F2 (7%), dan F3 (9%). Karakterisasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisika berupa uji daya sebar, daya lekat dan homogenitas, serta uji sifat kimia berupa uji pH dan uji gugus fungsi menggunakan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan semua formulasi memiliki karakteristik fisik yang homogen dan memenuhi standar sediaan topikal. Kemampuan daya sebar hidorgel memenuhi kriteria ideal (5,1-5,3 cm), dan daya lekat meningkat seiring bertambahnya konsentrasi minyak jintan hitam (32,67-59,00 detik). Nilai pH hidrogel berada pada rentang 6,16-6,89 yang sesuai dengan pH kulit. Analisis gugus fungsi menunjukkan adanya vibrasi ulur O-H, N-H, C-H, C=O, C=C, C-O dan C-N.