Internalisasi Nilai Hadis Kebersihan dalam Praktik Pengasuhan Anak Usia Dini
Abstract
Masa anak usia dini merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan hidup yang dapat berkembang menjadi bagian dari karakter anak. Dalam perspektif Islam, perilaku hidup bersih memiliki landasan nilai dalam hadis yang perlu diinternalisasikan melalui lingkungan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman orang tua terhadap hadis-hadis kebersihan, peran orang tua dalam menanamkan perilaku hidup bersih pada anak usia dini, kendala yang dihadapi, serta strategi yang digunakan untuk mengatasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode field research. Informan penelitian terdiri atas 12 orang tua yang memiliki anak usia 4–6 tahun dan dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring terbuka menggunakan Google Form dan dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan interpretasi diperkuat melalui member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memaknai kebersihan dalam dua orientasi utama, yaitu sebagai bagian dari thaharah dan ibadah pada informan dengan latar pendidikan keagamaan, serta sebagai kesehatan fisik pada informan dengan latar pendidikan umum. Meskipun memiliki cara pemaknaan yang berbeda, nilai hadis tersebut dikontekstualisasikan dalam praktik pengasuhan melalui pembiasaan perilaku bersih. Orang tua menjalankan peran sebagai teladan, pembimbing, pembiasa, pengawas, dan pemberi penguatan, dengan keteladanan menjadi strategi yang paling dominan. Kendala utama meliputi inkonsistensi perilaku anak, orientasi bermain, pengaruh lingkungan, dan keterbatasan waktu orang tua, yang diatasi melalui pengulangan, pendampingan, pendekatan menyenangkan, penguatan positif, komunikasi keluarga, dan peningkatan keteladanan. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai hadis yang dipahami secara berbeda oleh orang tua dikontekstualisasikan menjadi praktik pengasuhan konkret, dan keteladanan menjadi mekanisme utama yang menjembatani nilai religius dengan perilaku bersih anak.