Residu emamektin benzoat dan propineb pada sawi putih: Efek interval pra-panen, pengetahuan, dan sikap petani
Abstract
Sawi putih (Brassica rapa) merupakan salah satu sayuran hortikultura penting dengan nilai ekonomi dan gizi tinggi yang banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, intensitas penggunaan pestisida sintetis dalam budidayanya berpotensi meninggalkan residu yang dapat membahayakan kesehatan apabila melebihi ambang batas yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan mempelajari konsentrasi residu bahan aktif emamektin benzoat dan propineb pada tanaman sawi putih berdasarkan perbedaan waktu aplikasi terakhir dan mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan sikap petani terhadap penggunaan pestisida. Penelitian dibagi dua kegiatan, yaitu survei dan pengujian lapangan. Survei yang melibatkan 40 petani dilakukan di Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pengujian lapangan disusun dengan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 6 perlakuan kombinasi insektisida bahan aktif emamektin benzoat 30 g/l dan fungisida bahan aktif propineb 70% dengan interval aplikasi 3, 7, dan 14 hari sebelum panen serta kontrol yang masing-masing diulang tiga kali. Analisis residu dilakukan menggunakan kromatografi cair. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar residu propineb menurun dari 0,0105 mg/kg pada 3 hari sebelum panen (HSP) menjadi 0,0035 mg/kg pada 7 HSP, dan tidak terdeteksi pada 14 HSP. Sementara, residu emamektin benzoat berkisar 0,0065–0,0075 mg/kg yang menunjukkan seluruhnya berada di bawah batas maksimum residu (BMR) menurut SNI. Pengetahuan petani tergolong sedang, sedangkan sikap sebagian besar petani tergolong kurang baik sehingga diperlukan peningkatan edukasi mengenai penggunaan pestisida yang tepat dan kepatuhan terhadap interval waktu sebelum panen. Semakin panjang interval pra-panen, semakin rendah residu yang berada pada tanaman. Hasil ini menunjukkan pentingnya penerapan interval aplikasi pestisida terakhir dengan waktu panen untuk menjamin keamanan produk dan mendukung praktik pertanian yang baik.