Skip to content
Open access

DEKONSTRUKSI MAKNA KESUKSESAN DAN KARIER DALAM LAGU “BERDANSALAH, KARIR INI TAK ADA ARTINYA”: ANALISIS WACANA KRITIS

Sep 2026 · J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia · 0 citations

Abstract

This study aims to examine the construction of success and career meanings in Hindia's song Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis framework. The study employed a qualitative approach with data consisting of song lyrics and audience comments on the official YouTube video. The analysis was conducted through Fairclough's three dimensions: textual analysis, discursive practice, and social practice. The findings reveal that at the textual level, the song critiques neoliberal work culture through diction, metaphors, modality, and repetition that emphasize personal freedom, work-life balance, and psychological well-being. At the level of discursive practice, audiences actively interpret the song as a reflection of work-related experiences, career pressures, and the search for life meaning, resulting in ongoing negotiations of meaning within digital spaces. At the social practice level, the song reflects young people's concerns regarding productivity culture, economically oriented standards of success, and excessive work demands. The study concludes that the song functions not merely as popular music but also as a medium of social criticism that deconstructs dominant narratives of success and offers alternative interpretations centered on individual quality of life.   Penelitian ini bertujuan mengungkap konstruksi makna kesuksesan dan karier dalam lirik lagu Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya karya Hindia melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan data berupa lirik lagu dan komentar audiens pada video resmi lagu di YouTube. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi teks, lagu membangun kritik terhadap budaya kerja neoliberal melalui penggunaan diksi, metafora, modalitas, dan repetisi yang menekankan pentingnya kebebasan personal, keseimbangan hidup, dan kesejahteraan psikologis. Pada dimensi praktik diskursif, audiens secara aktif menafsirkan lagu sebagai refleksi pengalaman kerja, tekanan karier, serta pencarian makna hidup, sehingga makna lagu terus dinegosiasikan dalam ruang digital. Pada dimensi praktik sosial, lagu merefleksikan keresahan generasi muda terhadap budaya produktivitas, standar kesuksesan yang berorientasi pada pencapaian ekonomi, dan tuntutan kerja yang berlebihan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa lagu Hindia berfungsi tidak hanya sebagai karya musik populer, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang mendekonstruksi narasi kesuksesan dominan dan menawarkan pemaknaan alternatif yang lebih berpusat pada kualitas hidup individu.

Read PDF

We use cookies to run the site and, with your consent, for analytics and to show ads. See our Cookie Policy.